Demo BEM UI di Bundaran HI Dihadang Polisi, 21 Terduga Provokator Ditangkap

By Admin


Demonstrasi Mahasiswa/ X

nusakini.com, Ratusan mahasiswa yang bernaung di bawah BEM UI dan FMN tertahan barikade kepolisian saat berupaya menggelar unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Selasa (18/08). Massa aksi terpaksa menghentikan langkah mereka di jarak sekitar satu kilometer dari titik pusat akibat pengadangan tersebut.

Aparat keamanan berulang kali memberikan instruksi agar para demonstran tidak memaksakan diri menembus barisan penjagaan. "Tolak, tolak MBG sekarang juga," teriak para mahasiswa berjaket kuning yang terus berusaha bergerak maju ke depan.

Keterlambatan pencapaian lokasi ini diawali dengan pembatalan sepihak atas puluhan bus sewaan yang sedianya mengangkut rombongan dari Depok. Ketua BEM UI Yatalathof Imawan pada Senin (17/08) menyatakan bahwa rentetan aksi ini bertujuan untuk mempertanyakan orientasi kesejahteraan di momen peringatan kemerdekaan.

Menurut Yatalathof, perayaan kemerdekaan semestinya membawa keadilan bagi rakyat kecil dan bukan sekadar untuk kepentingan segelintir kelompok. "Ini bukan sekadar krisis ekonomi, melainkan ini adalah krisis kedaulatan," tegasnya di hadapan awak media.

Di tempat terpisah, aparat kepolisian mengeklaim telah mengamankan 21 individu yang diduga berniat memicu kerusuhan di tengah jalannya unjuk rasa. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan bahwa kelompok tersebut diduga kuat membawa barang berbahaya seperti suar dan bom molotov.

Pihak kepolisian menyatakan masih menyelidiki lebih lanjut motif utama dari kelompok yang diduga sebagai penyusup tersebut. "Tujuannya adalah membuat konflik antara petugas pengamanan dengan peserta yang menyampaikan pendapat di muka umum," ungkap Budi Hermanto.

Untuk mengantisipasi situasi, sebanyak 9.242 personel gabungan dari unsur Polri dan TNI telah disiagakan di berbagai titik ibu kota pada Selasa (18/08). Pasukan keamanan tersebut bertugas mengawal sekitar 31 titik demonstrasi yang tersebar di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

Dalam unjuk rasa kali ini, mahasiswa membawa delapan poin tuntutan yang ditujukan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tuntutan itu mencakup evaluasi total Proyek Strategis Nasional hingga desakan pencabutan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, massa juga menuntut penghentian dugaan intervensi aparat penegak hukum di ruang sipil yang dinilai mengekang iklim demokrasi. Ketua FMN Symphati Dimas turut menyuarakan kekecewaannya atas lambatnya rehabilitasi korban banjir bandang dan mendesak penetapan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra serta Flores. (*)